Korupsi sah sah saja di negeri ini !!!

Korupsi seakan-akan sudah mendarah daging, berurat akar pada semua aspek kehidupan di negeri ini. Semua orang bisa menjadi korbannya; dari lahir hingga meninggal dunia; paling tidak untuk urusan surat kelahiran dan kematian yang pasti memerlukan uang tambahan. Korupsi juga memberikan pengaruh pada urusan maksiat (misalnya judi dan pelacuran) hingga urusan akhirat, dari rakyat miskin hingga mereka yang kaya raya.

Dari hal tersebut, ada dua dimensi dimana korupsi bekerja. Dimensi yang pertama terjadi di tingkat atas, dimana melibatkan penguasa atau pejabat tinggi pemerintahan dan mencakup nilai uang yang cukup besar.
Para politikus dan pejabat negara kita berhasil mengumpulkan uang jutaan rupaih dan dollar dari sumber alam dan bantuan luar negeri.

Sementara itu dalam dimensi yang lain, yang umumnya terjadi di kalangan menengah dan bawah, biasanya bersentuhan langsung dengan kepentingan rakyat atau orang banyak. Korupsi yang terjadi di kalangan menengah dan bawah acap menghambat kepentingan kalangan menengah dan bawah itu sendiri, sebagai contoh adalah berbelitnya proses perizinan, pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP), Surat Izin Mengemudi (SIM), atau bahkan pungutan liar yang dilakukan oleh para polisi di jalan-jalan yang dilalui oleh kendaraan bisnis, dan para calo calo PNS, dll.

Orang-orang yang berniat korupsi tentu mempunyai pikiran buruk sejak awal. Pikirannya dilandasi dengan keserakahan, keinginan yang tidak pernah ada habis-habisnya. Ketika memegang jabatan tententu atau menjadi petugas tertentu; yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana caranya agar modal kembali segera dan berapa keuntungan yang diperoleh dengan jabatan ini. Harap maklum, konon, semua jabatan disertai dengan hadiah uang dan bagi-bagi uang; seperti upeti di zaman kerajaan. Di sejumlah tempat, terdapat pejabat atau petugas yang secara terang-terangan meminta uang dalam jumlah tertentu untuk memperlancar segala urusan. Harga sebuah keadilan yang paling sering menjadi bahan berita di media massa. Ketika harga diucapkan, perbuatan buruk melalui ucapan telah dilakukan.

Sejarah sendiri mencatat bahwa Perang Diponegoro, yang terjadi pada tahun 1825-1830, muncul akibat protes rakyat terhadap perbuatan pejabat-pejabat menengah, seperti Demang atau Bekel, dalam soal pungutan pajak, pematokan tanah untuk jalan tol, dan khususnya pungutan-pungutan yang dilakukan oleh para pejabat yang bertanggungjawab terhadap pintu gerbang tol.

Korupsi telah merasuki pikiran sebagian besar "orang " di negeri ini, yang dari pikiran dilanjutkan kepada kehendak, yang diteruskan dengan ucapan dan perbuatan. Kebiasaan ini akan menimbulkan pola tertentu dalam pikiran, yang akhirnya menjadi kebiasaan buruk.

Perbuatan akan menimbulkan akibat, baik atau buruk sesuai dengan yang telah dilakukan. Perbuatan buruk yang berasal dari kebiasaan buruk akan menimbulkan akumulasi akibat buruk. Suatu saat dia akan muncul, dalam kehidupan ini maupun dalam kehidupan mendatang. Banyak orang yang tidak menyadari akibatnya. Banyak orang yang terbius dengan kenikmatan yang dihasilkan pada saat ini. Oleh karena itu korupsi selalu melibatkan banyak orang. Karena itu pula, jangan heran kalau "KORUPSI SAH SAH SAJA DI NEGERI INI"

Namun karena esok hari tanggal 9 Desember yang merupakan Hari Anti Korupsi Sedunia. Jadi, tinggalkanlah sejenak (1 hari saja, atau seperti Audy katakan "1 jama saja") kebiasaan itu. marilah kita sebagai warganegara yang tidak taat akan kebiasaan korup, jauhilah korupsi. Jauhi korupsi sebelum terkena buat generasi muda, jauhi korupsi sebelum ketagihan buat pemula, dan jauhi korupsi sebelum maut menjemput buat konglomerat. Terima kasih.

Awas...
setiap Tanggal 9 Desember; Mata Sang Dewi Keadilan versi Indonesia akan terbuka.....

 


S. Maronie

08 December 2009                                                                                                 

01.52 am                                                                                                          

@my house

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kesadaran & Kepatuhan Hukum

Pengertian & Kegunaan Bahasa Hukum

Pengertian & Sumber Hukum Perbankan